Subhanallah, Inilah Mukjizat Alquran tetang Mengembangnya Alam Semesta

Hingga awal abad ke-20, dunia ilmu pengetahuan meyakini adalah bahwa alam semesta bersifat tetap dan telah ada sejak dahulu kala tanpa permulaan. Namun, penelitian, pengamatan, dan perhitungan yang dilakukan dengan teknologi modern, mengungkapkan bahwa alam semesta sesungguhnya memiliki permulaan, dan ia terus-menerus "mengembang".

Sejak terjadinya peristiwa Big Bang, kata Harun Yahya, alam semesta telah mengembang secara terus-menerus dengan kecepatan maha dahsyat. Para ilmuwan menyamakan peristiwa mengembangnya alam semesta dengan permukaan balon yang sedang ditiup.

Pada awal abad ke-20, fisikawan Rusia, Alexander Friedmann, dan ahli kosmologi Belgia, George Lemaitre, secara teoritis menghitung dan menemukan bahwa alam semesta senantiasa bergerak dan mengembang.

Fakta ini dibuktikan juga dengan menggunakan data pengamatan pada tahun 1929. Ketika mengamati langit dengan teleskop, Edwin Hubble, seorang astronom Amerika, menemukan bahwa bintang-bintang dan galaksi terus bergerak saling menjauhi. 

''Sebuah alam semesta, di mana segala sesuatunya terus bergerak menjauhi satu sama lain, berarti bahwa alam semesta tersebut terus-menerus "mengembang". Pengamatan yang dilakukan di tahun-tahun berikutnya memperkokoh fakta bahwa alam semesta terus mengembang,'' ujar Harun Yahya.

Sesungguhnya, fenomena mengembangnya alam semesta telah diungkapkan dalam Alquran yang diturunkan 14 abad silam, di saat ilmu astronomi masih terbelakang.

Mari simak firman Allah SWT dalam surah Az-Zariyat [51] ayat 47: "Dan langit itu Kami bangun dengan kekuasaan (Kami) dan sesungguhnya Kami benar-benar meluaskannya." 

Menurut Harun Yahya, kata "langit", sebagaimana dinyatakan dalam ayat ini, digunakan di banyak tempat dalam Alquran dengan makna luar angkasa dan alam semesta. 

''Di sini sekali lagi, kata tersebut digunakan dengan arti ini. Dengan kata lain, dalam Alquran dikatakan bahwa alam semesta "mengalami perluasan atau mengembang". Dan inilah yang kesimpulan yang dicapai ilmu pengetahuan masa kini,'' paparnya.

Maha Benar Allah dengan Segala FirmanNya

Kuliah Sambil Kerja, Apa Untung Ruginya?


SERING kali sebagai mahasiswa rantau, kamu merasa kurang dengan uang bulanan yang dikirimkan orangtua. Ketika tagihan mulai menumpuk, atau kamu sadar bahwa kamu tidak dapat belanja secara royal pada hal-hal yang kamu inginkan, apa hal pertama yang terlintas di pikiranmu?




Cari Kerja

Sebagai mahasiswa, kamu mungkin ingin atau perlu bekerja. Apa pun motifmu, uang yang kamu cari mungkin memang akan membuat hidupmu sedikit lebih mudah.

Collegecures, Selasa (3/4/2012), menyebutkan, ada dua jenis mahasiswa yang bekerja. Pertama, mahasiswa yang bekerja untuk membayar tagihan mereka, dan kedua, para pekerja yang kuliah. 

Mahasiswa yang bekerja biasanya hanya menjadi pekerja paruh waktu, sehingga terkadang masih dapat menyelesaikan studinya tepat waktu. Tetapi, para pegawai yang kuliah, biasanya akan kesulitan memperoleh gelar dalam waktu studi normal.

Kamu bisa mendapatkan banyak pengalaman kerja dengan menjadi mahasiswa yang bekerja paruh waktu. Salah satunya adalah melatihmu untuk menyeimbangkan waktu antara kegiatan akademis dan profesional.

Mahasiswa dengan kerja penuh (full time)

Mahasiswa jenis ini cenderung memiliki waktu yang lebih sulit di kampus karena mereka bekerja untuk mencari nafkah. Para mahasiswa yang masuk dalam kelompok ini juga harus bekerja keras untuk mengejar ketinggalan mereka dalam pelajaran.

Risiko lainnya adalah, para mahasiswa ini lebih mungkin putus sekolah karena stres. Mereka mungkin kesulitan membagi waktu antara berkonsentrasi mengerjakan tugas-tugas kuliah, atau justru terjebak dalam 'kenikmatan' menghasilkan uang sendiri.

Pertimbangan-pertimbangan

Jika kamu berencana untuk bekerja sambil kuliah, berikut adalah beberapa faktor yang harus kamu pertimbangkan.

- Apakah saya dapat menyeimbangkan kewajiban akademis, pekerjaan, dan kegiatan ekstrakurikuler lainnya?

- Apakah saya memiliki keterampilan manajemen waktu yang baik?

- Apa kebiasaan belajar saya?

- Bagaimana terorganisasinya saya?

Sangatlah penting untuk menimbang pro dan kontra sebelum memilih bekerja sambil sekolah. Kamu juga harus memahami pengorbanan yang harus kamu buat, dan berhati-hatilah agar tidak membuat jadwal kuliah bersamaan dengan waktu kerja.

Satu hal yang juga perlu kamu jadwalkan adalah, waktu relaksasi. Sebab, faktanya lembur dan bekerja terlalu keras akan membuatmu terlalu stres atau sakit.

Google Bersalah Dengan Iklan Menipu

Mesin pencari raksasa di dunia maya, Google, dinyatakan bersalah karena membiarkan pelanggannya memasang iklan menyesatkan. Kasus ini bergulir di pengadilan yang setelah pengajuan banding oleh sebuah lembaga pengawas. Demikian dilansir Sydney Morning Herald, Selasa (3/4/2012).

Lembaga pengawasan, The Australian Competition and Consumer Commission (ACCC), kalah di pengadilan federal melawan Google pada 22 September 2011, dengan tuduhan bahwa Google terlibat dalam sejumlah kegiatan seperti menyesatkan atau menipu publik.

Lembaga ini kemudian mengambil langkah hukum melawan Google pada November 2007 dan kemudian mengajukan banding pada 12 Oktober 2011.

Dalam sidang yang berlangsung di pengadilan federal di Sydney, Hakim Peter Jacobson, kepala pengadilan Patrick Anthony Keane, serta Hakim Bruce Thomas Lander, membatalkan keputusan di pengadilan tingkat pertama dan memberikan jaminan ke ACCC untuk melakukan banding.

Satu dari empat kasus yang diajukan, terungkap antara Maret 2006 dan Juli 2007 memuat iklan di mesin pencari khusus untuk situs CarSales namun ternyata malah yang muncul adalah Honda Australia.

Pengadilan juga menemukan iklan menyesatkan yang dimuat di Google dan tiga di antaranya melibatkan Harvey World, Alpha Dog Training, dan Just 4x4 magazine. Para hakim mengatakan seharusnya Google mengimplementasikan program pemenuhan untuk menghentikan hal itu terjadi lagi dan meminta agar Google membayar biaya yang dikeluarkan pihak ACCC.

Seekor Anjing Mengerti Tentang Arti Kesetiaan

Seekor anjing yang terlantar dijalanan melihat seorang yang sedang berjalan lewat dihadapannya lalu anjing tersebut mengikutinya sampai dirumah orang itu. Anjing itu tidak mau berpisah dari orang tersebut sehingga akhirnya anjing itu ditampung dan dirawat dirumahnya dengan baik dan tulus.

Setiap pagi ketika orang itu hendak pergi berangkat kerja anjing tersebut selalu ikut mengantarkannya sampai ke stasiun. Demikian pula setiap sore anjing tersebut selalu menjemputnya di stasiun yang sama.

Sampai suatu ketika sebagaimana biasa ketika pagi sang anjing mengantarkan sang majikan menuju stasiun dan ternyata sang majikan tersebut setelah sampai di tempat kerjanya meninggal dunia karena ajalnya telah datang. Pada sore harinya seperti biasa sang anjing menjemput sang majikan ke stasiun dan ternyata sang majikan tidak datang karena telah meninggal dunia dan sang anjing tersebut tidak tahu kalau majikannya meninggal dunia di tempat kerjanya. Setelah lama ditunggu dan tidak juga muncul akhirnya anjing itu pulang.

Ceritanya tidak hanya sampai disini saja, karena ternyata setiap sore anjing tersebut selalu menjemput sang majikan di stasiun dan pulang kembali setelah mendapati bahwa majikannya masih belum juga pulang. Anjing tersebut tidak putus asa dan berusaha untuk selalu menjemput majikannya setiap sore di stasiun. Hal ini dilakukan oleh sang anjing sampai SEPULUH TAHUN sebagai bukti kesetiaannya kepada sang majikan yang telah berbuat baik kepadanya sampai akhirnya anjing itupun meninggal dunia di stasiun tersebut ketika menjemput majikannya.

SUBHANALLAH!!! Seekor anjing mengerti tentang arti kesetiaan kepada orang yang pernah berbuat baik kepadanya. Bagaimana dengan kita????

Adalah Manfaat

Bismillahirrahmanirrahim,

Adalah manfaat,

Jikalau sesuatu kita fikirkan terlebih dahulu bahwa ada hal yang berbeda yang orang lain fikirkan untuk menanggapi sesuatu, sehingga bijak kita berkata, bijak kita berperilaku dan bijak untuk tak memaksakan. Bukankah Rasulullah tak pernah berfikir untuk medahulukan diri sendiri. Rasul yang akhlaknya sungguh luar biasa yang patut diteladani. 

Adalah manfaat,

Jikalau kita hanya berpatokan teladan dengan teladan yang pasti yaitu Rasulullah SAW. Sehingga bukan suatu kegalauan jika orang lain berbuat baik, kita sangat ingin menirunya namun keluar dari koridor syar'i-nya. Bukankah baik di hadapan Allah SWT sudah ada garis-garisnya ? Telah tegas batas-batasnya? Dan bukankah Allah SWT Maha Mengetahui segala sesuatu ? Karena syari'at bukanlah untuk ditawar seperti sebuah barang dagangan.

Adalah manfaat,

Jikalau ketenangan berbalut dzikir dan pikir, melihat suatu peristiwa bukan dari kulitnya namun ada hikmah dibaliknya. Hikmah yang hanya bisa dirasakan oleh orang-orang yang khusyuk dalam mengingat-Nya. Semakin dalam keilmuan semakin dalam kedekatan dengan-Nya semakin berbeda hikmah yang dianugerahkan. Segala sesuatu ada tingkatan dan Allah SWT memiliki tahap-tahap berbeda mencintai hamba-Nya.

Adalah manfaat,

Jikalau kita menyadari setiap orang belum tentu kita ketahui secara keseluruhan, kulit merah buah naga, mungkin putih buahnya. Jangan-jangan setiap diantara orang-orang yang kita lihat adalah orang-orang yang dicintai Allah SWT. Tak salah kan, jikalau kita menyambut setiap orang dengan senyuman ?

Adalah manfaat

Jikalau kita mau menerima, apa yang orang lain katakan seburuk apapun pada kita. Toh, kita bukan malaikat yang tak memiliki dosa? Ataupun hamba yang terjaga dari dosa. Bahkan kita bukan pula golongan di jamin masuk surga. 

Adalah manfaat

Jikalau sesuatu yang rahasia, tetaplah menjadi rahasia, sesuatu yang terpendam tetaplah menjadi terpendam, sampai batas waktu yang memang harus kita ungkap, yang memang harus kita utarakan mana-mana hal yang penting. Karena ada kekuatan penjagaan dari Allah SWT yang luar biasa yang bisa kita ambil hikmahnya. Seperti Ibunda Yukabad yang menjaga untuk tidak mengatakan Nabi Musa adalah anaknya.

Adalah manfaat,

Jikalau kita menyadari setiap shahabat Rasulullah memiliki keunikan tersendiri dalam berdakwah, usah gelisah dan percayalah pada saudara-saudara yang satu panji dengan kita dalam berdakwah, , , cukup satu pegang erat-eratlah kunci itu, kunci mengilmui Dinullah,,,

Adalah manfaat,

Jikalau kita menyadari betapa kekuatan Sang Khalik sungguh luar biasa dasyatnya, yang patut menjadi sebuah tempat bergantung setiap rasa dalam jengkal kehidupan. Bukankah kita akan kembali pula pada-Nya?

Belajarlah, dan belajarlah, sebarkanlah dan sebarkanlah apa yang bisa kamu berikan kepada orang lain yang baik dimata-Nya. Jangan kemudian kita hanya lelah dengan penilaian orang lain. 

Bijaklah dan bijaklah, pada tingkat-tingkat yang ada dalam kehidupan. Karena banyak hal yang kita tidak tahu , luar biasa jika kita tawadhu, dan tak salah jika kita belajar dari orang yang lebih tahu.


Ya Rabb, hamba berlindung dari kejahatan hati hamba ... Jikalaulah hamba bersalah, berikan cinta-Mu dengan sedikit teguran untuk mengembalikan diri ini dalam mengingat-Mu. Sungguh Allah, hamba akan berusaha menggapai cinta-Mu, dan jika suatu saat Engkau telah memberikan hamba sedikit cinta itu, maka cintailah hamba sesuai dengan kadar diri ini, dan tunjukkanlah hamba jalan-jalan menuju cinta-Mu yang lebih tinggi.

Wallahu'alam

Afwan,

BBM Naik, APBN Bobol Alasan Palsunya


Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tidak bobol sebagaimana didengungkan pemerintah sebagai alasan menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM). Menurut pengamat, itu merupakan alasan yang dibuat-buat hanya untuk kepentingan bisnis.
“Pengeluaran Pertamina Rp410,091 triliun dikurangi hasil penjualan Pertamina BBM Kebutuhan Indonesia Rp283,5 triliun. Hasilnya Rp126,591 triliun. Itulah yang harus dibayar pemerintah,” kata pengamat ekonomi, Bernard Lovies di Bekasi, Ahad (25/3/2012).
Namun dari jumlah yang harus dibayar tersebut, pemerintah masih punya pemasukan lain, yaitu hasil penjualan pemerintah ke Pertamina sebesar Rp224,546 triliun. Dengan demikian, lanjutnya, tanpa menaikkan harga BBM atau mengurangi subsidi, pemerintah masih untung Rp97,955.
“Inilah yang tidak pernah disampaikan Pemerintah Indonesia kepada masyarakat. Jadi sebenarnya tidak ada yang kebobolan,” lanjutnya.
Seperti diketahui, biaya LRT (lifting, redefined dan transportation) untuk produksi 63 miliar liter adalah 63 miliar dikalikan Rp566. Yaitu Rp35,658 triliun. Kemudian Lifting 930.000 barel per hari (atau 930.000 x 365 = 339,450 juta barel per tahun).
Sementara hak Indonesia adalah 70%, maka jumlahnya 237,615 Juta Barel per tahun. Belum lagi dengan konsumsi BBM yang dipakai masyarakat Indonesia 63 miliar liter per tahun, atau dibagi dengan 159. Berarti menjadi 396,226 juta barel per tahun.
“Kenapa kita masih ada kekurangan yang harus diimpor untuk konsumsi BBM di Indonesia? Pembelian Pertamina ke pemerintah hanya 158,611 Juta barel. Itu tandanya 158,611 juta barel USD 105 dilipatkan dengan Rp9000,- hasilnya adalah Rp149,887 triliun.
Jika alasannya menyesuaikan dengan harga minyak dunia, banyak negara lain yang menjual BBM dengan harga jauh lebih murah kepada rakyatnya sendiri dibanding Indonesia.

Seminar pendidikan

Selamat dan Sukses 
Seminar pendidikan 
"Membentuk Karakter pelajar yang Visioner ,santun dan kreatif" 

Jakarta Islamic Centre, Jakarta Utara 25 Maret 2012
&


Musyawarah Wilayah Alumni Pelajar Islam Indonesia (PII) 
PII Wilayah Jakarta 



Semoga menghasilkan keputusan yang bermanfaat untuk Ummat, Bangsa dan Negara


Ta'aruf-mu Jangan Salah Langkah

Langit kemerah-merahan yang menyelimuti alam tempat tinggalku mulai merona dengan barisan awan-awannya di medan senja. Aku yang duduk di bawahnya terusik pada iringan kisah masa laluku yang membuat hatiku sering diserang rasa dag dig dug tidak karuan. Traumatik rasanya. Ya… benar, benar-benar traumatik. Bagaimana tidak, cinta memang perkara fitrah namun kali ini cinta itu dibalut dengan kesalahpahaman manusia dalam mengartikan kata ta’aruf.

Beberapa waktu silam ketika aku beranjak dari dunia putih abu-abu, rasanya bebas sudah segala beban yang terus menerpa otak kiriku. Sedikit istirahat dari banyak buku yang menumpuk di meja belajar. Saat itu, mulailah aku melamar di salah satu lembaga kesehatan yang berbasis islamik, tak menunggu lama akhirnya aku diterima sebagai salah satu tenaga medis di sana. Uh… senangnya. Hatiku meronta-ronta gembira. Keseharianku yang sudah terlepas dari kewajiban sebagai pelajar, mulai ku isi celah-celah waktu dengan kegiatanku di dunia maya: membaca artikel islami, kata-kata motivasi, serta menggali wawasan keislamanku sebagai muslimah. Tak sengaja ketika aku membaca salah satu postingan Fans Page di situs jejaring social Facebook, aku tersentak kagum pada posting tersebut yang isinya mengisahkan bagaimana harmonisasi cinta Ali bin Abi Thalib dan Fatimah Az-Zahra yang tidak pernah disentuh oleh kesalahpahaman dalam mengapresiasikan cinta. Sucinya cinta mereka membuatku iri dan ingin menjadikan kisah hidupku dalam perkara cinta layaknya cinta yang dikisahkan mereka. Merasa tertarik, aku iseng-iseng meng-copas (copy-paste) posting tersebut dan ku update dalam status Facebook-ku, barangkali bisa menginspirasi teman-teman Facebook-ku yang lain ketika membaca status ini, dalam benakku berkata.

Wooww… ternyata status yang ku update itu memberikan banyak sumbangan jempol (like) pembacanya. Tak lama room chat Facebook-ku didatangi tamu tak diundang, yang sedikit mengusik aktivitasku di sana. (Siapakah dia?) Ya, sebut saja dia Si Ikhwan (bukan nama sebenarnya), seorang Ikhwan  yang suk lembut tutur katanya, yang fahim agamanya dan yang smart intelektualnya (-awalnya yang aku tau). Dia adalah seorang siswa SMA ABC,sedang duduk di kelas XII jurusan IPA di salah satu sekolah di Magelang. Awalnya tak banyak bicara, namun intensitas komunikasi yang tak jarang di Facebook yang pada akhirnya membuat aku dan dia akrab juga. Lama-lama ko’ ada yang aneh ya kalau enggak’ komunikasi sama Ikhwan tersebut, walaupun yang dibicarakan adalah perkara-perkara urgensi seperti keagamaan dan seputar fakta kehidupan baik jasmani maupun ruhiyah. Tak menutup kenyataan hingga pada akhirnya aktivitas chatting dan saling bertukar postingan di Facebook semakin meningkat. Mulai dari memberikanku ucapan selamat dan motivasi karena telah diterimanya aku di salah satu lembaga kesehatan, sampai pada malam hari kelahiranku tiba, Ikhwan tersebut memberikanku banyak kejutan lewat puisi-puisi yang di posting dalam wall Facebook-ku hingga kata-kata yang dituturkannya dalam room chat yang berisi “Dik, Maukah adik menjadi istri kakak dunia dan akhirat”. Byuurr…. rasanya hati seperti disiram madu, manis rasanya. Ikhwan menawarkan diri untuk berta’aruf denganku dan berprinsip sebagai seseorang yang anti-pacaran. Seketika aku teringat pada kisah Ali dan Fatimah yang menginspirasiku untuk mengikuti jejak cinta mereka, mungkin ta’aruf adalah solusinya. Malam itu hanya rasa haru yang menyelimuti hati di malam miladku yang ke-17. Mungkin masih tergolong labil untuk belia sepertiku yang baru saja menginjakkan kaki di usia ke-17, apalagi ingin mengarungi hari ke dalam prosesi ta’aruf yang diharapkan akan berujung ke jenjang pernikahan. Saat itu aku tak banyak bicara, dan hanya mengiyakan apa yang dikatakan Sang Ikhwan saat berlangsungnya komunikasi di Facebook.

Sepertiga malam lepas dari obrolan tersebut, aku munajatkan segala isi hati yang menumpuk dalam benakku, istikharah cinta hampir ku lakukan setiap hari untuk memohon kepada-Nya agar jalan ta’aruf ini berjalan sebagaimana yang diinginkan aku dan Ikhwan tersebut. Hem… hari-hariku rasanya semakin sering dihabiskan berkomunikasi dengan Sang Ikhwan walau hanya di Facebook. Beberapa bulan berlalu, akhirnya Ikhwan memintaku agar dia bisa menghubungiku lewat telepon berkenaan dengan masalah urgensi yang terjadi dalam hubungan antara aku dan dia. Jelas pada akhirnya kami berdua bukan saja berkomunikasi lewat jejaring social Facebook tapi juga lewat telepon. Setiap hari Facebook dan telepon selularku dipenuhi dengan kehadiran Sang Ikhwan (ya… yang seperti ini sepertinya bukan lagi disebut ta’aruf) -tapi kala itu yang menguasai hati dan pikiranku adalah tentang dia dan keinginanku untuk menikah.

Melihat hari-hariku yang dipenuhi dengan komunikasi bersama Sang Ikhwan di telepon selular, Ibu, Ayah dan Saudara-saudaraku gerah juga, dan mencoba mencari informasi tentang Ikhwan tersebut, juga sejauh apa hubunganku dengan dia. Aku jelaskan kepada kedua orang tuaku dan saudara-saudaraku mengenai keseriusannya padaku, walau tak sedetik pun aku dan Sang ikhwan tersebut pernah mengenal atau bertemu dalam dunia nyata. Zlep, serentak mereka terkejut dengan apa yang ku katakan, mungkin yang ada dalam benak mereka adalah kekhawatiran dan kewas-wasan yang saat itu juga tergambarkan di paparan raut wajah mereka, aku adalah gadis yang masih sangat belia, labil dan belum bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk untuk diriku sendiri, mana mungkin aku bisa mengarungi bahtera rumah tangga yang jelas pasti banyak tantangan di dalamnya. Begitu sekiranya pikiran mereka terhadapku saat itu. Tapi aku mencoba untuk meredam kekhawatiran mereka dengan pemikiranku yang hanya tertuju pada keberlangsungan hubunganku dan Ikhwan. Alhasil mereka tetap tidak menyetujui hubungan ini. Berbagai cara mereka lakukan untuk meyakinkanku bahwa jalan yang ku ambil bersama Ikhwan adalah sebuah kekeliruan, nampaknya seperti terhipnotis oleh segala kelebihan Ikhwan dari segi agama, intelektual dan social, mati-matian aku membela Sang Ikhwan di depan keluargaku sendiri. Jelas mereka jadi sangat memusuhiku, gelar sebagai “Anak Pembangkang” juga telah dinobatkannya padaku. Sedih rasanya melihat perlakuan keluarga sendiri terhadapku hingga aku putuskan untuk menceritakan hal ini kepada Sang Ikhwan. Aku jelaskan kepada dia apa yang selama ini terjadi antara aku dan keluarga. Sang Ikhwan mencoba menjadi pendengar yang baik bagi hatiku dan menenangkan aku yang dilanda isak tangis kala itu. Entah apa yang telah dia rasuki ke dalam pikiranku, segala dan apa yang dia katakan nampaknya tak sedikit pun aku elakkan, selalu aku percaya apa-apa yang dia katakan dan yang diceritakannya kepadaku. Apa yang dia katakan selalu aku anggap benar, sehingga aku relakan memperjuangkan Sang Ikhwan di hadapan keluarga.

Suatu saat kedua orang tuaku memintaku agar Sang Ikhwan menemui mereka, menjelaskan apa yang terjadi antara aku dan Sang Ikhwan. “Jika Dia memang serius kepadamu, Bawalah Ikhwan tersebut menghadap Ayah dan Ibu” begitu kata mereka. Tak banyak kata, aku menyampaikan pesan Ibu dan Ayah kepada Ikhwan. Tanpa ambil pusing Sang Ikhwan mengiyakan undangan kedua orang tuaku dan berjanji akan menemui mereka. Aku sedikit tenang. Alhamdulillah, semoga pertemuan nanti akan membuka pintu hati keluargaku yang selama ini tertutup untuk kehadiran Sang Ikhwan, demikian hatiku berkata.

Hari berganti hari, janji hanya sekedar janji. Janjinya untuk menemui keluargaku selalu diundur-undur dengan alasan masih banyak pekerjaan yang harus dia urus dan selesaikan, sementara keluarga sudah berkali-kali menagih janji kepadaku. Aku bingung sendiri bagaimana menghadapi kondisi emergency ini. Suatu saat, ketika aku tengah menjalani aktivitas pekerjaanku sebagai tenaga kesehatan di lembaga tempat aku bekerja, seorang laki-laki dengan atasan berlapis jaket hitam dan celana hitam mendatangiku, awalnya aku kira hanya pasien biasa atau pelanggan yang ingin membeli obat, namun laki-laki itu melontarkan banyak pertanyaan seputar kesehatan kepadaku, ku jawab seperlunya dan tidak ingin banyak bicara. Pembicaraan selesai, laki-laki itu menyodorkan sebuah kitab bahasa Arab kepadaku, dan menjelaskan bahwa dia adalah seseorang yang diberikan kepercayaan dari Ikhwan untuk menyampaikan amanat berupa kitab bahasa Arab tersebut kepadaku. Dengan rasa terkejut dan keheranan hatiku bertanya-tanya “mengapa Ikhwan tersebut menyuruh laki-laki itu yang mengantarkan kitab ini?” Tanpa ambil pusing aku menerima kitab itu, dan laki-laki itupun segera pergi. Sampai di rumah, aku menceritakan kejadian tadi kepada keluarga, keluargaku terkejut dan berfikir sama dengan apa yang ku pikirkan, mengapa tak Ikhwannya langsung yang mengantarkan kitab itu kepadaku.

Beberapa hari setelah kejadian berlangsung, Sang Ikhwan mengirimkanku sebuah pesan singkat, segera ku buka inbox yang masuk di telepon selularku. “Aku dalam perjalanan menuju rumahmu, Malam ini aku akan datang memenuhi undangan orang tuamu”. Aku terdiam membaca pesan singkat ini, tak ada yang bisa menggambarkan perasaanku saat itu dan tanpa berfikir panjang aku kabarkan berita ini kepada orang tuaku. Aku hanya berharap pertemuan orang tuaku dan dia nanti akan membuka hati keluarga untuk kehadiran Ikhwan serta keberlangsungan hubungan ini, walaupun pertemuan ini telah ditunda-tunda sepihak selama beberapa bulan oleh Si Ikhwan. Tak lama seorang laki-laki berkostumkan kemeja kotak-kotak berlapiskan jaket hitam, bersarung hijau, mengenakan peci, ransel yang menggantung di punggungnya dan sebuah buku yang selalu menempel di tangannya ke manapun dia pergi yang merupakan ciri khas laki-laki tersebut tengah bertamu ke rumahku. Salah satu keluarga mempersilakannya duduk dan menunggu. Aku yang masih di dalam rumah mencoba melihat di balik jendela kamarku dan memastikan siapa orang yang tengah bertamu itu. Ku intip sedikit dan… Huuzsshhh, “bukankah yang seharusnya menemuiku adalah Ikhwan yang selama ini tergambar di pikiranku, tapi kenapa laki-laki ini lagi yang datang menemuiku? “Laki-laki yang tempo lalu mengantarkan sebuah kitab titipan Ikhwan kepadaku. Aku memanggil ayah dan menginterupsikan untuk menemui laki-laki itu. Ayah segera menemuinya sementara aku lebih memilih untuk mendengarkan pembicaraan mereka dari dalam. Selang beberapa menit pembicaraan mereka berlangsung, kakakku yang ada di dalam bersamaku, menyuruhku untuk menemui laki-laki itu bersama Ayah yang terlebih dahulu menemuinya. Terpaksa aku keluar juga, aku duduk di samping ayah dan mendengarkan pembicaraan mereka. Setelah mendengar jawaban dan penjelasan laki-laki itu atas pertanyaan ayah, serasa kepala mau pecah, kesal bercampur malu menjadi satu. Diam dan berusaha tenang yang hanya bisa ku lakukan saat itu. Kesimpulan dari jawaban laki-laki itu dan apa yang dijelaskannya kepadaku dan ayah adalah sebenarnya dialah Ikhwan yang selama ini menjalin hubungan denganku, bahwa dia bukanlah apa yang selama ini diceritakannya kepadaku, bahkan identitas sang Ikhwan yang selama ini aku tahu bukanlah identitas yang sebenarnya, identitas keluarganya yang diceritakan selama ini kepadaku bukanlah identitas yang sesungguhnya, bahkan beberapa cerita tentang aktivitasnya sehari-hari adalah bentuk rekayasa yang dibuatnya juga, foto-foto yang terlampir di belantara facebooknya adalah foto hasil smart-editing yang menjadikan gambar dirinya dalam foto tersebut sangat berbeda jauh lebih bagus dengan tampak aslinya. Dengan gamblangnya dia menjelaskan satu hal di hadapan aku dan ayah, bahwa awalnya dia hanya menjadikanku bahan eksperimen dan penelitian cintanya, namun tak menutup kenyataan bahwa pada akhirnya Sang Ikhwan juga terperangkap dalam permainan cintanya sendiri. Dia mencintaiku, dan berharap bisa melanjutkan hubungan denganku.

Mengetahui hal itu, keluargaku merasa terhina dengan apa yang dilakukannya padaku, tanpa kompromi lagi sudah jelas keluargaku tak sedikit pun merestui hubungan yang ku jalani bersamanya. Sembari menutup kekesalan, kekecewaan dan rasa malu-ku kepada orang tua dan keluarga besarku yang sebelumnya sudah mendengar kabar angin bahwa aku akan segera menikah, aku mencoba menghubungi Sang Ikhwan dan meminta penjelasan yang lebih luas tentang apa yang selama ini dia lakukan kepadaku, dengan menampilkan sikap baik seperti saat sebelum ku bertemu dengan dia, yang mencintai dia dan menghargai setiap apa yang dia katakan kepadaku. Dan ternyata penjelasan yang sama seperti yang dijelaskannya waktu dia ke rumahku yang aku dapatkan dari mulutnya lewat telepon. Ahh… aku tak percaya, seperti mimpi rasanya. Aku termenung dalam kekecewaanku, hari-hari ku lewati dengan penuh kebimbangan, dan rasa sakit yang mendera jiwa, ingin meninggalkan kisah kelam ini namun aku menyadari bahwa sedikit aku mencintainya namun banyak kenangan yang telah aku lalui bersamanya, aku telah terbiasa berkomunikasi dan aneh dirasa jika sehari saja tak mendengar suaranya dia pun merasakan hal yang demikian, dia sangat mencintaiku, cinta pertamanya adalah aku dan berharap kelak aku bisa menjadi istri baginya. Namun melihat situasi dan kondisi keluargaku yang tak lagi sedikit pun memberi restu, rasanya tidak mungkin hubungan ini bisa dilanjutkan, Sang Ikhwan-pun penuh kebimbangan, di satu sisi dia sangat mencintai aku dan ingin mempertahankan hubungan yang telah berlangsung ini, tapi di sisi lain restu dari keluargaku sudah tak mungkin lagi didapatkan akibat ulahnya sendiri. Sementara, aku rapuh di atas kekecewaan terhadap apa yang telah dilakukannya padaku selama ini, pikiranku semakin kacau tidak karuan, suka merenung dan menangis seketika. Di tengah ketermenungan, aku mencoba menghibur diri dan log in ke Facebook-ku, barangkali banyak postingan yang bisa memotivasi diriku yang sedang dalam keterpurukan, ku buka dan ku dapatkan Message dari seorang Akhwat yang sedikit banyak memberikan motivasi dan banyak pelajaran berharga.

“Assalamu’alaikum Ukhti…”


Bagaimana kabar imanmu hari ini? Semoga hatimu masih dalam tuntunan dan Rahmat-Nya.
Ukht… Jika kamu selalu murung dan menyesali apa yang tengah melandamu saat ini, mungkinkah kamu bisa saja disebut sebagai hamba-Nya yang kurang bersyukur???
Ukhti… engkau adalah gadis belia yang cantik dan manis, keinginanmu untuk menikah adalah atas izinnya, tapi satu hal yang selalu kita lupa ukht… apa yang menjadi Izin-Nya tak berarti menjadi Ridho-Nya. Jangan ukhti… jangan engkau selalu meratapi dan menyesali apa yang telah berlaku dalam hidupmu, Allah punya rencana indah di atas rencana. Apa yang kamu alami sudah menjadi Rencana-Nya, dan di atas Rencana-Nya, Allah mempunyai Rencana lain untukmu ukhti. Sadarilah bahwa Allah Subhaanahu wa ta’ala adalah sebaik-baiknya Dzat Perencana.



“Dan berencanalah kalian, Allah membuat rencana. Dan Allah sebaik-baik perencana.” (Ali Imran: 54)


Cinta memang terkadang membuat kita lupa akan Kebesaran-Nya, taukah kau ukhti…
Cinta yang Hakiki adalah cinta karena-Nya, jika cinta dalam hatimu datang semata-mata karena-Nya, engkau pun harus ikhlas meninggalkan cinta semata-mata karena-Nya. Cinta yang suci itu cinta yang tak pernah tersentuh oleh “cinta” sebelum cinta itu menjadi kehalalan bagi penikmatnya, sekalipun cinta itu hanya ada dalam kata-kata. Bisa jadi apa yang engkau alami saat ini adalah sebuah teguran sebagai bentuk rasa Cinta-Nya terhadapmu Ukhti. Mungkin selama ini engkau lupa bahwa apa yang kau jalani bersama seseorang yang engkau kagumi bukanlah sebuah tindakan yang di-Ridhai-Nya. Dan Allah sedang memberikan Petunjuk-Nya kepadamu… “Maka Allah menyesatkan kepada siapa saja yang Dia kehendaki, dan memberikan petunjuk kepada siapa saja yang Dia kehendaki… (QS. Ibrahim: 4)



Ukhti mungkin engkau akan bertanya-tanya atas ujian yang melanda hatimu saat ini. Kenapa engkau diuji?? Allah telah menjawab dalam Al-Qur’an ukht: “Apakah manusia itu mengira bahawa mereka dibiarkan saja mengatakan; “Kami telah beriman,” sedangkan mereka tidak diuji? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang yang benar dan, sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” – (QS. Al-Ankabut ayat 2-3)

Dan jika engkau bertanya: Mengapa aku tak dapat apa yang aku idam-idamkan?

Allah juga telah menjawab dalam Al-Qur’an: “Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu, Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui.” – (QS Al-Baqarah ayat 216)

Sungguh Maha Benar Allah atas segala Firman-Nya. Bersyukurlah ukhti, karena itu kunci pembuka Rahmat-Nya, Allah sedang mengetuk hatimu, lihatlah bagaimana Allah sangat mencintaimu ukht, Allah sedang memanggilmu untuk segera kembali ke jalan yang di-Ridhai-Nya.

Ukhti… sungguh aku mencintaimu karena Allah…

Aku menorehkan pesan ini kepadamu karena Allah

Aku melihat keberadaanmu karena Allah…

Dan kita dipertemukan karena Allah, Insya Allah…

“Wassalamu’alaiki yaa Ukhti”

Tersentak air mataku bercucuran dan hatiku luluh dalam tangisan, haru dan bahagia yang kurasa saat itu, membaca inboxnya hatiku seperti ditiupkan nyawa kembali. Ya… dia adalah rekan kerjaku, seorang akhwat yang lemah lembut, pintar, sopan, berjilbab lebar, dan setiap apa yang dikatakannya mampu menenangkan hati pendengarnya, sungguh beliau salah satu cerminan Akhwat sejati. Memang, sejak awal lingkungan tempat kerjaku adalah tempat yang mampu memberikanku banyak hikmah di dalamnya, mulai dari aku yang belajar memperbaiki pakaianku, yang biasanya jilbab setengah-setengah mulai ku labuhkan jilbab lebar, itulah jilbab syar’i, kemudian aku yang mulai menyadari urgensi tarbiyah bagi muslimah sampai pada ukhuwah islamiyah yang mendarah daging. Subhaanallaah. Serasa, Aku ingin mencintainya karena Allah, dan aku ingin seperti dia karena Allah. Aku bangkit dan aku harus berubah, semangatku membara. Pada hari itu juga ku putuskan untuk tidak melanjutkan hubungan terlarang dengan Ikhwan tersebut yang telah berlangsung kurang lebih 6 bulan lamanya, ku hubungi kembali Sang Ikhwan dan ku katakana padanya bahwa aku ingin mengakhiri hubungan terlarang ini. Marah, kesal, dan emosi bercampur kata-kata kasar yang justru Ikhwan itu lontarkan kepadaku, hinaan bahkan cacian si Ikhwan ditimpa padaku saat aku memutuskan hubungan terlarang itu. Ya… sepertinya dia belum bisa menerima keputusananku, jiwanya tak terkontrol sementara marah menjadi raja atas dirinya ketika aku memutuskannya, semua aku lakukan karena aku baru menyadari bahwa hubungan yang selama ini aku jalani bukanlah cinta layaknya serial cinta Ali dan Fathimah, apa yang ku jalani bukanlah kesucian cinta yang menjadi fitrah dari Allah Ta’ala, justru kecelakaan cinta namanya. Sakit memang sakit mendengar kata-kata kasar yang keluar dari mulut Sang Ikhwan, namun jiwaku mungkin akan lebih sakit jika masih ku jalani hubungan terlarang itu dengannya. Hanya bait-bait doa mengharap ampunan-Nya yang mampu ku tuturkan kala kegoncangan jiwa itu melanda “Yaa Rabb, Cinta yang datang semata-mata karena-Mu, cinta itu juga akan pergi semata-mata karena-Mu, maka berikanlah aku keikhlasan dalam menerima datang dan perginya cinta yang Engkau fitrahkan pada setiap diri manusia. Dan sisi-kan-lah aku dalam penjagaan-Mu siang maupun malam ketika cinta itu datang dan pergi seketika. Hanya kepada-Mu aku berserah diri yaa Rabb…


Kami Ucapkan Selamat Pak Hatta


JAKARTA– Ketua Umum DPP Partai Amanat Nasional (PAN) Hatta Rajasa meraih gelar doktor honoris causa (HC) bidang ekonomi dari Universitas Ekonomi di Bratislava, Slovakia. 

Gelar ini mempertegas pengakuan dunia terhadap kapasitas keilmuan Menteri Ko-ordinator Bidang Perekonomian tersebut.Sidang senat terbuka pemberian gelar kehormatan dari universitas di ibu kota Slovakia tersebut rencananya digelar Maret ini,menyesuaikan dengan jadwal Hatta dan kegiatan akademik Universitas Bratislava.

LulusanTeknik Perminyakan ITB ini rencananya juga akan memberikan orasi ilmiah. Ketua DPP PAN Didik Junaidi Rachbini mengatakan,dalam hal keilmuan, kiprah Hatta Rajasa tidak diragukan lagi.Tak heran bila pria yang pernah aktif di Pelajar Islam Indonesia (PII) ini menerima beberapa gelar doktor HC sebagai pengakuan akan kapasitasnya.

”Bang Hatta tergolong sosok yang sudah kenyang asam garam keilmuan maupun pengalaman. Dari banyak capres yang bermunculan, beliau memiliki keunggulan dalam pengalaman baik di pemerintahan maupun dalam berpolitik,”ujar Didik di Jakarta,kemarin.

Ketua Umum Penegak Amanat Reformasi Rakyat (Parra) Rusli Halim Fadli menambahkan, gelar doktor HC dari luar negeri bagi tokoh nasional tergolong sangat langka.Dibanding tokoh parpol lain yang ada saat ini, kata dia, Hatta termasuk salah satu figur yang bisa diandalkan karena mampu menjaga keseimbangan antara pendalaman teori dengan praktik terapannya di lapangan.

”Penghargaan Doktor HC Universitas Ekonomi Bratislava ini tidak main-main.Gelar ini menjadi tolak ukur bagaimana masyarakat internasional mengakui kemampuan Hatta Rajasa dari sudut pandang keilmuan. Lebih dari itu Hatta Rajasa juga dikenal taat beragama,”ungkapnya.

Dia menjelaskan,Hatta Rajasa tipikal konseptor yang juga aktif terjun ke lapangan. Ketika Hatta mengemban tugas sebagai menko perekonomian, banyak renegoisasi kontrak-kontrak asing telah dilakukan. Bahkan terbukti tingkat pertumbuhan ekonomi Indonesia sangat tinggi dan nomor dua setelah China.Nilai tukar rupiah pun stabil bahkan pendapatan per kapita masyarakat paling tinggi dalam sejarah Republik ini. (S4U)

Galeri Seminar Kasih Sayang











Galeri Rapimwil Yogyakarta Besar

 
Gb. Delegasi PD PII Kab. Magelang           Gb. Steering Commitee                            

Gb. Sosialisasi PKU-PKB                                   Gb. Peserta Rapat

PIIWati Kembalikan Citra

“Barangsiapa yang beramal sholeh, baik laki-laki maupun perempuan sedang ia beriman, niscaya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami balas ia dengan balasan yang lebih baik dari apa yang telah mereka lakukan.”
(QS. An Nahl: 97)
Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang bearakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), “Ya Robbana, tidaklah Engkau Menciptakan semua ini sis-sia; Maha Suci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka.”
(QS. Ali Imron: 190-191)
Barang siapa mengurus tiga anak wanita atau tiga saudara wanita atau dua anak wanita atau dua saudara wanita, lalu ia mendidik mereka, dan menikahkan mereka maka ia masuk surga.
(HR. Abu Dawud)
Barang siapa mempunyai tiga anak perempuan, atau tiga saudara wanita, atau dua anak wanita, atau dua saudara wanita, lalu ia memperlakukan mereka dengan baik dan bertaqwa kepada Allah dalam mengurus mereka, maka ia berhak mendapat surga.
(HR. Abu Dawud dan Tirmidzi dari Abu Sa’id Al Khudri)

Komitmen


Insyaf akan tanggungjawab sebagai Pelajar terhadap Islam, masa depan ummat Islam, bangsa dan negara. Yakin akan kebenaran Islam sebagai satu-satunya Dien serta untuk menciptakan masyarakat yang sejahtera, adil dan damai dengan limpahan maghfiroh dan mardlotillah.



Sesungguhnya menjadi tanggungjawab Pelajar Islam Indonesia untuk memberikan wadah bagi para kader putrinya dalam mengaktualisasikan potensi, karya dan peranannya sebagai pelajar putri yang mempunyai peran strategis di masyarakat. Tekad untuk membentuk pelajar muslimah pemimpin yang mampu melakukan pembelaan terhadap hak-haknya untuk mempunyai peran mandiri di masyarakat dan dilandaskan demi tegaknya cita-cita PII, Izzul Islam wal Muslimin. Pelajar Muslimah pemimpin adalah pilar dasar bagi terbentuknya generasi Robbani penerus perjuangan ummat.

Sebenarnya, kepemimpinan, apa pun bentuk atau nama dan cirinya serta ditinjau dari sudut pandang mana pun, tidak terlepas atau berdasarkan pada kebajikan dan kemaslahatan dan mengantarkan kepada kemajuan suatu bangsa.
Seorang pemimpin harus dapat menentukan arah, menyusun strategi, menciptakan peluang, menghadapi tantangan, dan melahirkan terobosan-terobosan besar melalui kreativitas dan inovasinya. Semua itu menuntut kecerdasan emosional, intelektual, dan spiritual.


Tidak Tegas

Maju-mundurnya suatu negara akan dipengaruhi apa yang dilakukan dan diputuskan pemimpinnya. Presiden adalah representasi negara. Sebesar apa pun negaranya, berapa pun jumlah rakyatnya, dan siapa pun yang bernaung di bawahnya, presidenlah yang memutuskan ke mana nasib bangsa ini akan dibawa dan bagaimana cara membawanya.
Pemimpin bangsa harus mengarahkan seluruh rakyatnya ke arah yang lebih baik. Inilah salah satu nilai terdalam dan terluhur yang berangsur mulai hilang dari pemimpin di negeri ini.
Sementara yang kita saksikan, sifat para pemimpin di negeri ini terkesan ragu-ragu, bimbang, tidak tegas, dan tidak berani mengambil keputusan yang menyangkut persoalan bangsa. Padahal, inti dari kepemimpinan adalah pengambilan keputusan dengan tegas dan berani.
Oleh karena itu, seorang pemimpin di negeri ini harus menyerap, menyelaraskan, dan mengaktualisasikan serta merealisasikan nilai-nilai kepemimpinan pada diri Rasulullah. Para pemimpin perlu mengambil keputusan kepemimpinan berdasarkan pada nilai-nilai tersebut. Hal ini juga penting untuk membangun kepercayaan (trust) serta komitmen. Karakter ini harus dapat ditemukan dalam sosok pemimpin/presiden sehingga rakyat tidak menjadi korban dan dikorbankan.
Sebenarnya, selain menerapkan nilai-nilai kepemimpinan Nabi tersebut, banyak cara yang bisa dilakukan oleh seorang pemimpin untuk membangun bangsa ini dan mendapat kepercayaan masyarakat.
Rakyat membutuhkan sosok pemimpin dengan sifat kepemimpinan Nabi. Tentu saja ini tidak bisa dicapai hanya dengan wacana dan retorika, tapi perlu niat, keseriusan, dan tindakan nyata.

KONDA X


Borobudur- Konferensi Daerah ke-10 Pengurus Daerah Pelajar Islam Indonesia Kabupaten Magelang bertempat di SMP ma’arif Borobudur , pada hari sabtu - ahad (21 – 22/5) bertepatan pada tanggal 17-18 Jumadil Akhir 1432 H.

Dan Alhamdulillah, masih berjalan dengan lancar, setelah gagal alias dipersulit utk peminjaman tempat di fasilitas pendidikan Muhammadiyah (SMA Muh. Borobudur), temen2 PD PII Magelang tetap jadi melaksanakan Konferensi Daerah X kemarin sabtu-ahad di SMP Ma'arif Borobudur

Dari Ruang Sidang Pleno KONDA X ada beberapa nama calon ketua atau calon penganti Heri Prasetyo sebagai ketua PD PII Kab. Magelang yaitu :
1.Khabibi
2.Sunyata
3.Nur Andi P.
4.Widya A.
5.Wahyu S.B.
6. Siti Khotimah
7. Slamet Edi K.

Terpilihlah Sunyata, Nur Andi P.,.Widya A.,Wahyu S.B., Siti Khotimah sebagai anggota suatu Dewan yang bertugas untuk memusyawarahkan terbentuknya struktur dan personalia PD PII Kab. Magelang periode 2011- 2012 yaitu yang disebut sebagai DEWAN FORMATUR PD PII Kab. Magelang periode 2011- 2012 .
Akhirnya, ketua umum PD PII Kab. Magelang yang Terpilih ialah Nur Andi P., menurut hasil musyawarah DEWAN FORMATUR , walaupun jumlah suara Khabibi dan Sunyata mengungguli dari Nur Andi P. yang dinilai lebih berpeluang. Dan Visi misi Andi ingin menjadikan pelajar Magelang yang beriman dan bertakwa, dan dia ingin meningkatkan ekspansi jaringan PII di mata dunia.

Recovery Merapi


Posko Peduli Bersama Recovery Merapi dibentuk setelah meredanya bencana Erupsi Merapi 2010. Posko ini mulai aktif menjalankan kegiatan "Recovery Merapi" sejak Desember 2010, meskipun gerakannya masih bersifat personal dan informal. Pada bulan Februari 2011, barulah disepakati bersama pembentukan posko Peduli Bersama "Recovery Merapi" yang terdiri dari tiga lembaga inti, yakni : LanJARAN (Lembaga untuk Pembelajaran), Pengurus Daerah Pelajar Islam Indonesia (PII) Kabupaten Magelang, dan Relawan Rumah Zakat Jakarta Barat.

Marhaban Yaa Ramadhan


Seluruh umat Islam kini menyerukan 'Marhaban Ya Ramadhan, Marhaban Ya Ramadhan Setiap media telah siap dengan dengan sederet agendanya masing-masing. Ada rasa gembira, ke-khusyu'-an, harapan, semangat dan nuansa spiritualitas lainnya yang sarat makna untuk diekpresikan. Itulah Ramadhan, bulan yang tahun lalu kita lepas kepergiannya dengan linangan air mata, kini datang kembali.

Sejumlah nilai-nilai dan hikmah-hikmah yang terkandung dalam ibadah puasa pun marak dikaji dan kembangkan. Ada nilai sosial, perdamaian, kemanusiaan, semangat gotong royong, solidaritas, kebersamaan, persahabatan dan semangat prularisme. Ada pula manfaat lahiriah seperti: pemulihan kesehatan (terutama perncernaan dan metabolisme), peningkatan intelektual, kemesraan dan keharmonisan keluarga, kasih sayang, pengelolaan hawa nafsu dan penyempurnaan nilai kepribadian lainnya. Ada lagi aspek spiritualitas: puasa untuk peningkatan kecerdasan spiritual, ketaqwaan dan penjernihan hati nurani dalam berdialog dengan al-Khaliq. Semuanya adalah nilai-nilai positif yang terkandung dalam puasa yang selayaknya tidak hanya kita pahami sebagai wacana yang memenuhi intelektualitas kita, namun menuntut implementasi dan penghayatan dalam setiap aspek kehidupan kita.

Yang juga penting dalam menyambut bulan Ramadhan tentunya adalah bagaimana kita merancang langkah strategis dalam mengisinya agar mampu memproduksi nilai-nilai positif dan hikmah yang dikandungnya. Jadi, bukan hanya melulu mikir menu untuk berbuka puasa dan sahur saja. Namun, kita sangat perlu menyusun menu rohani dan ibadah kita. Kalau direnungkan, menu buka dan sahur bahkan sering lebih istemawa (baca: mewah) dibanding dengan makanan keseharian kita. Tentunya, kita harus menyusun menu ibadah di bulan suci ini dengan kualitas yang lebih baik dan daripada hari-hari biasa. Dengan begitu kita benar-benar dapat merayakan kegemilangan bulan kemenangan ini dengan lebih mumpuni.

Ramadhan adalah bulan penyemangat. Bulan yang mengisi kembali baterai jiwa setiap muslim. Ramadhan sebagai 'Shahrul Ibadah' harus kita maknai dengan semangat pengamalan ibadah yang sempurna. Ramadhan sebagai 'Shahrul Fath' (bulan kemenangan) harus kita maknai dengan memenangkan kebaikan atas segala keburukan. Ramadhan sebagai "Shahrul Huda" (bulan petunjuk) harus kita implementasikan dengan semangat mengajak kepada jalan yang benar, kepada ajaran Al-Qur'an dan ajaran Nabi Muhammad Saw. Ramadhan sebagai "Shahrus-Salam" harus kita maknai dengan mempromosikan perdamaian dan keteduhan. Ramadhan sebagai 'Shahrul-Jihad" (bulan perjuangan) harus kita realisasikan dengan perjuangan menentang kedzaliman dan ketidakadilan di muka bumi ini. Ramadhan sebagai "Shahrul Maghfirah" harus kita hiasi dengan meminta dan memberiakan ampunan.

Dengan mempersiapkan dan memprogram aktifitas kita selama bulan Ramadhan ini, insya Allah akan menghasilkan kebahagiaan. Kebahagiaan akan terasa istimewa manakala melalui perjuangan dan jerih payah. Semakin berat dan serius usaha kita meraih kabahagiaan, maka semakin nikmat kebahagiaan itu kita rasakan. Itulah yang dijelaskan dalam sebuah hadist Nabi bahwa orang yang berpuasa akan mendapatkan dua kebahagiaan.

Pertama yaitu kebahagiaan ketika ia "Ifthar" (berbuka). Ini artinya kebahagiaan yang duniawi, yang didapatkannya ketika terpenuhinya keinginan dan kebutuhan jasmani yang sebelumnya telah dikekangnya, maupun kabahagiaan rohani karena terobatinya kehausan sipritualitas dengan siraman-siraman ritualnya dan amal sholehnya.

Kedua, adalah kebahagiaan ketika bertemu dengan Tuhannya. Inilah kebahagian ukhrawi yang didapatkannya pada saat pertemuannya yang hakiki dengan al-Khaliq. Kebahagiaan yang merupakan puncak dari setiap kebahagiaan yang ada.

Akhirnya, hikmah-hikmah puasa dan keutamaan-keutaman Ramadhan di atas, dapat kita jadikan media untuk bermuhasabah dan menilai kualitas puasa kita. Hikmah-hikmah puasa dan Ramadhan yang sedemikian banyak dan mutidimensional, mengartikan bahwa ibadah puasa juga multidimensional. Begitu banyak aspek-aspek ibadah puasa yang harus diamalkan agar puasa kita benar-benar berkualitas dan mampu menghasilkan nilai-nilai positif yang dikandungnya. Seorang ulama sufi berkata "Puasa yang paling ringan adalah meninggalkan makan dan minum". Ini berarti di sana masih banyak puasa-puasa yang tidak sekedar beroleh dengan jalan makan dan minum selama sehari penuh, melainkan 'puasa' lain yang bersifat batiniah.



Semoga dengan mempersiapkan diri kita secara baik dan merencanakan aktifitas dan ibadah-ibadah dengan ihlas, serta berniat "liwajhillah wa limardlatillah", karena Allah dan karena mencari ridha Allah, kita mendapatkan kedua kebahagiaan tersebut, yaitu "sa'adatud-daarain" kebahagiaan dunia dan akherat. Semoga kita bisa mengisi Ramadhan tidak hanya dengan kuantitas harinya, namun lebih dari pada itu kita juga memperhatikan kualitas puasa kita.








Leadership Intermediate Training

Leadership Intermediate Training yang dilaksanakan di SD MUAMMADIYAH BOROBUDUR sejak tanggal 3- 10 kini berjalan dengan lancar dan sukses......walaupun masih ada kekurangan, tapi Alhamdulillah kelar juga akhirnya....kegiatan INTRA yang di hadiri dari Kebumen, Wonosobo, Temanggung, serta Magelang, tak lupa PW YOGBES adah,,,..
.pembukaan dimulai dari pukul 9 malam kemudian penutupan baru tadi siang jam 12.00 WIB. wah capek banget, besok kita anak PD Kab. Magelang dan brigade( 5 PERSONEL) pergi MUKNAS di Serang dari tanggal 10 sampai nanti tanggal 16, wah bener bener capek buanget udah, baru saja kegiatan intra di susul kegiatan muknas, tapi tidak apalah..... ayo tetap berjuang..... Berjuang ok... untuk PII SE DUNIA... wah gimana hasil dari MUKNAS... APA MUNGKIN NANTI PD mau diganti BAKORDA... langsung apakah sudah dipertimbangkan manfaat dan kerugian dari BAKORDA (badan koordinasi daerah) yang tanpa stuktural,, dan Bagaimana dengan keadministrasian.....apakah lebih baik ... atau kah lebih memburuk... ayo teman teman PII sedunia pilihlah dengan hati nuranimu mana yang terbaik ........


tak luput ini semua berkat bantuan yang di lakukan oleh semua PII Kab. Maagelang...serta semua pihak yang sudah memperlancar kegiatan ini, kami ucapkan terima kasih

created by : Sub Regional Board of Indonesian Moslem Student's Association KABUPATEN MAGELANG

HARBA PII KAB.MAGELANG


 HARBA PIIKAB.MAGELANG
Hari bangkit (HARBA) PII ke 63 kini telah di kibarkan kembali oleh PII Kab. Magelang periade 2010/2011 pada tanggal 9 mei 2010 , dengan ketua umum Heri Prasetyo, dan ketua panitia Batriyah/Riya, dengan undangan berbagai macam daerah,dan undangan terhadap sekolah2, kegiatan harbapun dimulai dari pukul 08.00-16.00, dengan diadakan kegiatan yang sangat meriah,berbagai macam pementasan telah dihadirkan:teater,jatikan,tarian jawa,nyanyi,dll dengan diadakanya HARBA PII Kab. magelang adalah salah satu wahana pii magelang untuk bisa memberikan konstribusi positif terhadap masyarakat terutama pelajar.disana tak lupa telah di hadiri dari wakil dari pemerintah.dan yang mengisi adalah keluarga besar yaitu dr. Haryono.dengan Undangan 300 Orang beserta undangan untuk Panti Asuhan Daarus Sundus dan Daarul-Hikmah.tak lupa kami ucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah ikut membantu mensukseskan HARBA PII Kab. magelang ini.semoga pii kedepan bisa lebih baik dan pelebaran lebih besar lagi.selamat berjuang untuk pii kedepan.dan salam kami dari pii kab. magelang untuk semua pihak.



Sub Regional Board of 
Indonesian Moslem Student's Association 

KABUPATEN MAGELANG

un memiliki dampak ( - ) bagi pelajar

Kecurangan yang terjadi bukanlagi satu-satunya yang terjadi semenjak ujian nasional diberlakukan di Indonesia sebagai penentu kelulusan. yang kemudian mendorong lahirnya kelompok “Air mata guru.” Isu-isu kebocoran soal di beberapa daerah pun menyebar luas diberitakan di media masa.

...... mengapa kecurangan terus terjadi?..... Pertama, penekanan yang berlebihan pada hasil/ nilai, dan bukan pada proses belajar. Akibatnya, hasil menjadi tujuan utama. Ketika hasil dianggap lebih penting daripada proses, segala cara pun dihalalkan demi memperoleh nilai tinggi. Pemerintah sendirilah sebenarnya yang mengajarkan cara pandang seperti itu melalui ujian nasional. Di satu sisi, ujian nasional seakan-akan menjadi hakim penentu masa depan siswa tanpa mempertimbangkan riwayat belajar mereka. Di sisi lain, ujian nasional berisi soal-soal pilihan ganda yang bersifat sangat otoriter, seolah-olah hanya ada satu jawaban benar. Siswa tidak pernah bisa mengajukan argumentasinya mengapa mereka bisa sampai pada pilihan jawaban tertentu. Pembuat soal juga tidak pernah bisa mempertanggungjawabkan mengapa pilihan A, B, C, D, atau E menjadi jawaban benar untuk sebuah soal tertentu. Di sinilah letak persoalannya: bagaimana jika jawaban untuk sebuah soal masih bisa diperdebatkan? Kepada siapa siswa harus mengajukan argumentasi seandainya terdapat soal yang menurut mereka memiliki lebih dari satu jawaban benar? Pembelajaran seharusnya ditempuh melalui proses pengajaran yang benar, melalui tanya-jawab dan diskusi yang mendalam, serta kegiatan yang merangsang siswa untuk berpkir pada level yang tinggi, dan bukan sekadar memilih-milih alternatif-alternatif jawaban.

Kedua, hasil ujian nasional berdampak pada reputasi sekolah. Ketika reputasi dan nama baik menjadi taruhan, segala cara untuk mempertahankannya seolah-olah sah untuk dilakukan. Lebih-lebih jika yang dipertaruhkan adalah reputasi kepala sekolah yang terancam dimutasi Kepala Dinas Pendidikan

Masyarakat terlanjur beranggapan bahwa semakin tinggi tingkat kelulusan siswa di sebuah sekolah semakin baik sekolah tersebut. Jika tingkat ketidaklulusan sebuah sekolah tinggi, jatuhlah reputasi sekolah tersebut. Masyarakat tidak bisa sepenuhnya disalahkan karena pandangan mereka itu, sebab pemerintah sendiri secara tidak langsung menanamkan cara pandang itu ke dalam benak masyarakat. Pemerintah pernah menggunakan EBTANAS untuk menentukan peringkat sekolah (dan seolah-olah kualitas sekolah) secara nasional, lepas dari proses belajar yang terjadi di sebuah sekolah. Dari sinilah logika yang salah kaprah itu berawal. Masyarakat lalu tidak peduli lagi apakah skor tinggi ujian akhir di sebuah sekolah merupakan hasil dari proses belajar yang benar, atau hasil dari dril mekanis soal-soal pilihan ganda yang sejak awal diberikan oleh guru mereka atau oleh lembaga-lembaga bimbingan belajar. Jika tingkat kelulusannya tinggi, kualitas sekolah tersebut juga tinggi. Jika tingkat kelulusannya rendah, kualitasnya pun rendah. Demikianlah anggapan masyarakat. Tingkat kelulusan di sebuah sekolah akhirnya akan berdampak pada jumlah calon siswa yang mendaftar di sekolah tersebut untuk tahun ajaran yang baru. Jumlah calon siswa yang mendaftar, dan akhirnya diterima sebagai siswa, tentu juga berpengaruh pada keberlangsungan sekolah. Alhasil, segala cara pun dilakukan agar sekolah tetap mempunyai nama baik di masyarakat, dan bertahan hidup.

Kekhawatiran dan keprihatinan akan dampak buruk ujian yang distandardkan dan tersentralisasi telah banyak disuarakan oleh para pemerhati pendidikan.

Dalam sebuah dokumen tahun 1997, Komisi Pendidikan Nasional (sekarang Kementrian Pendidikan Cina) menyebutkan beberapa akibat buruk dari praktik pendidikan semacam itu: penekanan berlebihan pada persiapan menghadapi tes; kurangnya pendidikan moral, sosial, emosional, dan fisik; model pembelajaran yang mengandalkan hafalan dan dril soal mekanis, minimnya keterlibatan siswa dalam kegiatan belajar; dan hilangnya kreatifitas. Banyaknya tes, ujian, dan pekerjaan rumah yang harus dikerjakan siswa juga ditengarai menjadi konsekuensi yang harus ditanggung oleh siswa akibat praktik pendidikan tak sehat yang hanya mengejar tingkat keberhasilan setinggi-tingginya dalam ujian nasional yang diselenggarakan oleh biro pendidikan nasional.

Praktik pendidikan berusia seribu tahun yang menjadikan tes sebagai tujuan utama tersebut, menurut Yong Zhao, mengutip Menteri Pendidikan Cina, telah melanggar undang-undang pendidikan Cina, yang menyebutkan bahwa tujuan utama pendidikan di Cina adalah menghasilkan anak-anak dan remaja yang utuh dan seimbang dalam hal moralitas, intelektual, dan fisik.

Kesadaran untuk mewujudkan cita-cita pendidikan yang diamanatkan undang-undang pendidikan Cina muncul tahun 1993 ketika Komite Pusat Partai Komunis Cina bersama dengan Dewan Negara Cina mengeluarkan Kerangka Kerja Reformasi dan Pengembangan Pendidikan di Cina, yang menuntut agar sekolah-sekolah dasar dan menengah meninggalkan praktik pendidikan berorientasi tes, dan mengadopsi pendidikan yang mengembangkan kualitas-kualitas siswa dalam aspek moral dan etika, budaya dan sains, kesehatan fisik, kapasitas emosional dan psikologis (Yong Zhao, 2007).

Kesadaran itu ditegaskan lagi tahun 1999 saat pemerintah Cina menerbitkan sebuah dokumen kebijakan yang mendorong sekolah-sekolah dasar dan menengah untuk menerapkan ujian kelulusan mereka sendiri, bukan ujian yang dibuat oleh biro pendidikan negara, serta melarang pemerintah daerah menggunakan jumlah siswa yang diterima di jenjang pendidikan lebih tingi sebagai ukuran untuk menentukan kualitas sekolah.

Di negara maju seperti Amerika Serikat pun, pemberlakuan ujian yang distandardkan juga banyak ditentang sebab dianggap tidak adil, mengabaikan keragaman siswa, serta merugikan minoritas dari ekonomi kelas bawah yang mempunyai keterbatasan untuk mendapatkan sumber-sumber belajar. Dalam disertasinya, Dale E. Margheim (2001), seorang mahasiswa program doktoral di Virginia Polytechnic Institute and State University mengungkapkan sebuah contoh dampak buruk standardized tests yang barangkali juga terjadi di Indonesia, dan negara-negara lain yang menerapkannya. Natalie J. Martinez, seorang siswi kelas XII SMA San Antonio, Texas, yang memiliki talenta musik gagal mendapatkan ijazah hanya karena menemui kesulitan melakukan perhitungan matematis dengan bilangan pecahan, meskipun Natalie telah dinyatakan menerima beasiswa untuk belajar musik di Universitas Incarnate Word. Alhasil, siswi bersuara sopran itu pun tak diterima belajar di universitas Katolik tersebut. Padahal, bilangan pecahan hampir pasti tak akan pernah digunakannya untuk belajar musik! Inilah yang disebut ketidakadilan. Bagian kecil dari matematika yang disebut bilangan pecahan itu telah merobek-robek jaring impian dan cita-citanya dan memupuskan harapannya.

Dale E. Margheim (2001) juga menunjukkan satu bentuk ketidakadilan lain yang disebabkan oleh ujian yang distandardkan. McDonnell, McLaughlin, and Morison (1997), yang ia kutip dalam bagian disertasinya, menyebutkan bahwa sebagian besar ujian yang dikategorikan beresiko tinggi (high-stake test), termasuk di dalamnya ujian yang distandardkan, didasarkan pada premis bahwa semua siswa mampu mencapai standard akademik tinggi meskipun presmis tersebut sama sekali tidak didasarkan pada hasil riset. Dengan kata lain semua siswa diperlakukan seolah-olah sama. Faktanya, mereka sangat beragam dalam kemampuan intelektual, daya serap, muatan akademis, latar belakang ekonomi, kondisi keluarga, dan lain sebagainya. Belum lagi keberagaman fasilitas sekolah tempat mereka belajar, akses terhadap teknologi dan informasi, maupun kemampuan metodologis guru-guru mereka. Siswa yang bersekolah di kota tentu mempunyai kesempatan lebih besar untuk mendapatkan sumber-sumber belajar yang layak. Siswa dengan latar belakang ekonomi kuat mempunyai kesempatan untuk menuntut ilmu di sekolah-sekolah dengan fasilitas belajar yang baik, dan oleh karena itu memiliki peluang lebih besar untuk berprestasi. Lain halnya dengan sekolah-sekolah di pinggiran, pedesaan, apalagi daerah pedalaman. Bagaimana mungkin siswa-siswa yang sangat beragam ini diukur prestasi akademik dan kelulusannya dengan standard yang sama? Sungguh tidak adil!

Sebuah penelitian lain di Amerika Serikat yang secara langsung berkaitan dengan hasil studi McDonnell, McLaughlin, and Morison (1997) di atas dilakukan oleh Lomax, Richard G, West, Mary Maxwell, Harmon, Maryellen C, Viator, Katherine A, Madaus, George F. (1995), yang menyebutkan bahwa ujian yang distandardkan merugikan dan mengabaikan siswa minoritas yang mempunyai keterbatasan ekonomi dan akses terhadap pendidikan sebab ujian yang distandardkan selalu merefleksikan kultur mayoritas. Akibatnya, hasil ujian mereka tidak bisa dianggap sebagai representasi yang adil dan memadai dari apa yang sungguh-sungguh mereka ketahui dan mampu lakukan.

Lebih jauh, mengutip Smith dan Rottenberg (1991), Lomax dan kawan-kawan menyebutkan dalam bagian introduksi laporan penelitian mereka 3 dampak serius ujian yang distandardkan dan tersentralisasi: 1) berkurangnya waktu untuk pengajaran, 2) diabaikannya materi kurikulum yang tidak diujikan, dan 3) meningkatnya pemakaian materi persiapan yang mirip dengan tes.

Tiga kesimpulan riset di atas persis sama dengan apa yang diungkapkan Yong Zhao dalam artikelnya itu. Akibat yang bisa diduga dari praktik ruang kelas semacam itu adalah menyempitnya kurikulum sebab materi-materi yang seharusnya diajarkan tidak diberikan kepada siswa karena materi-materi itu tak banyak keluar di ujian. Orientasi mengajar guru berubah. Kelas yang mestinya menjadi ajang pencerdasan dan tempat untuk mengajarkan keterampilan berpikir berubah menjadi tempat pelatihan menghadapi tes tak ubahnya lembaga bimbingan tes.

Melengkapi temuan Yong Zhao di Cina serta hasil riset para ahli pendidikan Amerika Serikat, hasil studi yang dilakukan Iwan Syahril, seorang mahasiswa pasca sarjana di Teachers College, Universitas Columbia pada tahun 2007 menyebutkan dampak-dampak buruk UAN di Indonesia terhadap siswa dan guru. Pertama, siswa menderita masalah psikologis yang serius. Banyak siswa mengalami kecemasan saat ujian, dan banyak yang merasa frustasi karena gagal ujian. Kondisi psikologis siswa saat menempuh ujian tidaklah sama satu dengan yang lain. Kecemasan tentunya mempengaruhi performa peserta ujian, yang pada gilirannya berimbas pada hasil ujian. Tekanan psikologis inilah yang rupanya tidak diperhitungkan oleh penyelenggara ujian nasional. Ujian yang distandardkan, menurut Iwan Syahril mengutip Oak dan Lipton (2007), selalu mengasumsikan bahwa peserta ujian mengerjakan tes di bawah kondisi yang sama. Siapa bisa menjamin para peserta berada dalam kondisi psikologis yang sama? Bahkan beberapa siswa yang biasanya menduduki rangking atas di sekolah mereka mengalami tekanan psikologis yang berat dan mengalami kegagalan (Iwan Syahril, 2007). Temuan Iwan Syahril ini sama dengan yang diungkapkan oleh Michael Phillips (2007) bahwa tes yang distandardkan menyebabkan kecemasan pada peserta ujian.

Kedua, guru kehilangan energi kreatif mereka dalam mengajar. Guru-guru merasa bahwa tidak ada gunanya merancang pengajaran kreatif dan inovatif karena materi itu tidak akan diujikan. Hasil studi ini persis sama dengan hasil penelitian Smith dan Rottenberg (1991) di atas. Akibatnya, guru mengajar semata-mata demi tes. Materi yang diajarkan hanya materi yang keluar di ujian. Lalu, apa yang bisa diharapkan dari proses belajar–mengajar yang salah semacam ini? Tujuan pendidikan tidak sesempit itu.

Dalam konteks inilah pemerintah terkesan tidak konsisten dengan kebijakan pendidikan nasionalnya sendiri. Di satu sisi, Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang berlaku sekarang sebenarnya memberi ruang gerak yang lebih luas bagi guru untuk merancang kegiatan-kegiatan pembelajaran yang kreatif dan atraktif, memberi kesempatan kepada guru untuk mengajarkan keterampilan berpikir tingkat tinggi, dan mengembangkan model pendidikan yang lebih holistik. Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional tahun 2003 bab II pasal 3 dengan tegas menyatakan bahwa pendidikan nasional bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Artinya, undang-undang menghendaki agar pendidikan sungguh-sungguh mampu membekali siswa dengan kecerdasan intelektual, spiritual, dan emosi. Akan tetapi, di sisi lain, pemerintah secara tidak sadar telah menghambat tujuan pendidikan yang mulia tersebut melalui pemberlakuan ujian yang distandardkan dan tersentralisasi itu. Kalau akhirnya nasib siswa ditentukan hanya oleh ujian tiga hari dan pada saat yang sama reputasi sekolah dipertaruhkan, adalah masuk akal jika guru lalu berpikir, untuk apa repot-repot mempersiapkan kegiatan pembelajaran yang kreatif dan atraktif? Bukankah latihan-latihan soal pilihan ganda lebih bermanfaat untuk masa depan mereka?

Disadari atau tidak, ujian nasional telah menyebabkan guru dan seluruh komunitas sekolah mengarahkan perhatian mereka pada ujian penentu kelulusan itu. Lalu, praktik-praktik keseharian di sekolah dan di ruang kelas akan mengikuti arah ini. Di sekolah tempat penulis mengajar, misalnya, ada kewajiban bagi guru untuk menyertakan soal pilihan ganda sebesar 40% pada ujian semester maupun tengah semester dengan alasan agar siswa terbiasa mengerjakan tes pilihan ganda dalam ujian nasional. Masalahnya, tidak semua kompetensi dasar (KD) dalam tiap mata pelajaran bisa diujikan dengan model soal seperti itu. Tidak menutup kemungkinan praktik-praktik serupa juga terjadi di sekolah-sekolah lain.


Persoalannya adalah, apakah siswa giat belajar sekadar karena takut gagal ujian, atau karena secara sadar ingin berkembang secara intelektual? Apakah guru giat mengajar karena khawatir banyak siswanya tidak lulus ujian, sehingga mengancam reputasi karir dan sekolahnya, atau karena secara sadar ingin mengoptimalkan potensi intelektual siswa-siswanya? Apakah layak disebut belajar kalau yang dikerjakan hanya menghafal materi dan berlatih menjawab soal-soal? Apakah pantas disebut mengajar jika yang dilakukan guru hanya memberi soal-soal latihan pilihan ganda?

Temuan Yong Zhao (2007), Iwan Syahril (2007), maupun Smith dan Rottenberg (1991) menegaskan bahwa ujian yang distandardkan hanya menghasilkan siswa dan guru paranoid yang takut dan cemas menghadapi ujian. Ujian yang distandardkan menghasilkan siswa yang giat belajar atau guru yang giat mengajar semata-mata demi nilai. Kecurangan-kecurangan yang terjadi di beberapa daerah selama pelaksanaan UAN juga menjadi indikasi bahwa ujian yang distandardkan dan tersentralisasi telah menyebabkan siswa dan guru melupakan tujuan hakiki pendidikan. Pendidikan telah diperlakukan tak ubahnya seperti kegiatan mekanis untuk mencapai tujuan jangka pendek. Bukankah pendidikan semestinya diarahkan untuk mewujudkan cita-cita idealnya, yakni menghasilkan pribadi-pribadi yang utuh dan seimbang secara intelektual, emosional, dan sosial, sebagaimana diamanatkan undang-undang, dan bukan semata-mata demi skor UAN?

Mempertimbangkan dampak-dampak serius dari penerapan ujian nasional sebagaimana diuraikan di atas, dan bercermin pada pemerintah Cina, pemerintah Indonesia seyogyanya mempertimbangkan kembali kebijakan untuk menerapkan UAN sebagai alat penentu kelulusan siswa, setidaknya untuk tahun depan karena beberapa alasan. Pertama, UAN telah menyeret siswa dan guru kepada praktik-praktik yang mereduksi makna hakiki pendidikan. Kedua, UAN justru menghambat pencapaian cita-cita luhur pendidikan untuk menghasilkan pribadi-pribadi yang utuh dan seimbang. Ketiga, ujian yang distandardkan dan tersentralisasi melanggar prinsip keadilan. Pencapaian belajar siswa selama tiga tahun telah dinilai dan diukur dengan tes yang hanya berlangsung selama tiga hari. Apalagi, UAN telah dipakai untuk menentukan kelulusan siswa. Keempat, penentu kebijakan negeri ini telah mengabaikan keberagaman sekolah-sekolah dan siswa-siswanya di Indonesia dalam hal fasilitas, akses terhadap sumber belajar, dan sumber daya manusia.

Keputusan pemerintah Cina menyerahkan penyelenggaraan ujian kelulusan kepada sekolah patut ditiru. Yang berhak menguji siswa adalah sekolah sendiri sebagai satu-satunya lembaga yang tahu betul konteks siswa yang diasuhnya. Artinya, sekolah tahu kemampuan siswa-siswanya, muatan akademis mereka, latar belakang keluarga dan ekonomi mereka, serta seberapa dalam kompetensi tertentu telah dikuasai siswa. Penyelenggara ujian nasional tidak pernah bertemu dengan para siswa, apalagi mengajar mereka, dan oleh karena itu tidak berhak menguji dan menentukan kelulusan mereka.

Asumsi pemerintah yang menyatakan bahwa UAN akan mendorong siswa dan guru bekerja lebih giat sehingga berprestasi lebih baik sungguh tidak bisa diterima. Apakah betul ada korelasi positif antara pemberlakuan ujian yang distandardkan secara nasional dengan prestasi siswa? Sebuah studi yang dilakukan Sharon L. Nicols, Gene V. Glass, dan David C. Berliner terhadap data tes NAEP (the National Assessment of Educational Progress) di 25 negara bagian di Amerika Serikat (Techniques, 2006) justru menyangkal premis tersebut, sebab hasil studi tersebut tidak menemukan bukti kuat yang menunjukkan bahwa tekanan ujian yang dipakai untuk mengukur keberhasilan siswa dan sekolah benar-benar meningkatkan prestasi belajar siswa. Artinya, ujian nasional bukanlah faktor penting yang secara signifikan mampu mendorong siswa untuk berprestasi.

Ujian yang distandardkan hanya sebagai alat evaluasi dan bukan sebagai alat penentu kelulusan. Pemerintah mengatakan bahwa salah satu fungsi ujian nasional adalah untuk memetakan kualitas pendidikan di Indonesia, dan menjamin mutu pendidikan nasional. Fungsi inilah yang mestinya lebih ditekankan. Pemerintah bisa membuat kebijakan-kebijakan maupun program-program pendidikan yang didasarkan pada hasil pemetaan tersebut.

 

Demi Masa

Pengunjung

Sub Regional Board of Indonesian Moslem Student's Association KABUPATEN MAGELANG. Diberdayakan oleh Blogger.

JANGAN LUPA ISI BUKU TAMU